POTRET INDONESIA 2014 Reformasi Sistem Kesehatan Melalui Pengembangan Konsep Kesehatan Holistik Sebagai Pelayan Masyarakat Universal, Menjangkau, Aman, Nyaman dan Profesional Menuju Pembangunan Kesehatan yang Berkualitas

POTRET INDONESIA 2014


Reformasi Sistem Kesehatan Melalui Pengembangan Konsep Kesehatan Holistik Sebagai Pelayan Masyarakat Universal, Menjangkau, Aman, Nyaman dan Profesional Menuju Pembangunan Kesehatan yang Berkualitas

Oleh : Agus Samsudrajat S

A.      Latar Belakang

            Kesehatan dan pendidikan merupakan pilar suatu negara dalam menentukan kemajuan dan kesejahteraan.  Pendidikan menjamin tersedianya SDM (sumber daya manusia) yang profesional, beriman dan bertaqwa, bermoral dan berakhlak mulia, namun tanpa didukung kesehatan yang baik maka tidak akan tercipta SDM sebagaimana dimaksud tersebut. Pelayanan kesehatan saat ini merupakan kebutuhan utama dalam mempersiapkan masyarakat yang produktif berhasil guna dan berdaya guna sebagai tulang punggung kemajuan suatu bangsa. Indonesia dengan 230 juta penduduk memerlukan sarana pelayanan kesehatan yang profesional. Pelayanan kesehatan konvensional yang ada belum dapat menjangkau bagian terbesar dari penduduk tersebut, karenanya perlu dipersiapkan pola pelayanan kesehatan yang efektif, aman, mudah, murah. (http://holisticindonesia.com)

            Pengembangan sistem kesehatan di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1982 ketika Departemen Kesehatan menyusun dokumen sistem kesehatan di Indonesia. Kemudian Departemen Kesehatan RI pada tahun 2004 ini telah melakukan suatu “penyesuaian” terhadap SKN (Sistem Kesehatan Nasional) 1982. Didalam dokumen dikatakan bahwa SKN didefinisikan sebagai  suatu tatanan yang menghimpun upaya Bangsa Indonesia secara terpadu dan saling mendukung, guna menjamin derajat kesehatan yang setinggi-tingginya sebagai perwujudan kesejahteraan umum seperti dimaksud dalam Pembukaan UUD 1945. (Depkes RI, 2004; www.manajamenkesehatan.net, 2013)

            Konsep holistik semakin mundur sepanjang abad 20 ketika konvensional barat mengalami kemajuan yang sangat berarti dalam dunia medis. Para dokter dan praktisi kesehatan semakin fokus untuk melihat tubuh sebagai bagian-bagian kecil, dan ditunjang dengan perkembangan obat-obat kimia yang sangat menakjubkan. Berbagai macam  mikroorganisme ditemukan sebagai penyebab timbulnya penyakit sehingga obat-obat kimia dicetak sebagai penyerbu dan pembunuh mikroorganisme tersebut. Masyarakatpun semakin jauh meninggalkan konsep holistik karena hampir semua keluhan sakit dapat dihilangkan secara instant oleh obat-obatan kimia. Dampak yang terjadi adalah tubuh dibuat sangat manja oleh obat, dan tubuh relatif jarang diberikan kesempatan untuk bekerja menyembuhkan sendiri.

            Konsep holistik kembali muncul ke permukaan ketika para dokter mengalami kebuntuan dalam mengelola pasien-pasien dengan penyakit kronis, penyakit-penyakit yang divonis hanya bertahan beberapa lama, penyakit-penyakit kanker stadium terminal, dan efek samping dari obat-obatan kimia yang semakin lama semakin membuat pusing. Obat kimia yang sangat ampuh untuk menghilangkan gejala-gejala penyakit ternyata mempunyai kehebatan yang hampir sama dalam menimbulkan kerusakan dalam tubuh. Saat itulah dokter dan praktisi kesehatan di seluruh dunia mulai kembali memikirkan suatu konsep pengobatan secara alami dan menyeluruh dengan harapan tercapai kesembuhan yang sesungguhnya, bukan sekedar meredam gejala penyakit dan  tidak merasa sakit tetapi didalam tubuh penyakit berakumulasi sehingga menimbulkan penyakit yang lebih mengerikan lagi.

            Menurut Peraturan Presiden No.72 tahun 2012, dikatakan bahwa Sistem Kesehatan Nasional (SKN) adalah pengelolaan kesehatan yang diselenggarakan oleh semua komponen Bangsa Indonesia secara terpadu dan saling mendukung guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.  Sedangkan sehat menurut UU No.36 tahun 2009 tentang kesehatan adalah suatu keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

            Di negara India dan Cina, sejak dahulu selalu menekankan bahwa keselarasan, keserasian, dan keseimbangan di dalam hidup adalah suatu jalan menuju kepada kondisi kesehatan. Socrates  selalu mengingatkan agar kita tidak memandang tubuh hanya bagian perbagian. Karena satu bagian tubuh akan sungguh dalam kondisi yang betul-betul baik apabila bagian tubuh yang lain juga baik. Jan Christian Smuts pada tahun 1926 kembali mengenalkan istilah holistik dalam dunia medis, tetapi kemudian holistik hanya sekedar menjadi sebuah kata tanpa aplikasi yang berarti.

           Konsep kedokteran konvensional yang selama ini kita kenal, semakin lama semakin jauh dari usaha mencapai standar sehat yang menyeluruh. Pabrik-pabrik farmasi berlomba memproduksi obat-obatan sintesa kimia yang lebih ditujukan kepada menghilangkan gejala penyakit dan bukan pada penyebabnya. Ini disebabkan permintaan pasar (konsumen) yang menghendaki obat-obat yang instan. Konsep kesehatan telah ditakhlukkan oleh permintaan pasar yang keliru. Kesehatan adalah aset hidup yang harus dijaga dan dipertahankan. Hampir setiap orang akan berusaha semampunya untuk menjaga kesehatan tubuhnya tetap prima, karena tubuh adalah titipan Tuhan YME dan menjadi kewajiban bagi kita untuk menjaganya (www.holisticindoensia.com).

1.    Masalah Pembiayaan dan Regulasi

            Dalam situs manajemenkesehatan.net yang mencuplik berita dari suarapembaharuan.com, mengatakan bahwa para pakar menilai komitmen pemerintah terhadap masalah kesehatan di Indonesia masih sangat lemah. Hal ini terlihat baik dari sisi politik anggaran maupun regulasi yang belum pro terhadap kesehatan masyarakat. Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sudaryatmo, pakar kesehatan dari Universitas Hassanudin Prof. Razak Thaha dan Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zainal Abidin dan pendiri Maarif Institute Ahmad Safii Maarif menilai pergantian pimpinan/penguasa terus terjadi, namun masalah kesehatan tetap berjalan di tempat.

            Sudaryatmo mengatakan, dari sisi politik anggaran kesehatan dan pendidikan, komitmen pemerintah Indonesia dibanding negara lain masih ketinggalan. Ini terlihat dari alokasi untuk pendidikan dan kesehatan dari total Produk Domestik Bruto (GDP), Indonesia paling rendah dari negara lain yaitu 2%. Sedangkan Kamboja 4%, Laos mendekati 5%, Malaysia 10%, Philipina 15% dan Thailand hampir 7%. “Jadi dari sisi politik anggaran pemerintah memang belum berpihak pada isu kesehatan dan pendidikan. Minimnya anggaran kesehatan menimbulkan banyak persoalan seperti kematian ibu dan balita karena kurang mendapatkan dukungan memadai,” kata Sudaryatmo pada acara refleksi setahun menjelang Pilpres 2014 yang digalar IDI di Jakarta, Senin 14 Januari 2013. Hadir pula Wakil Menteri Kesehatan Ali Ghufron Mukti. (www.manajamenkesehatan.net, 2013; www.suarapembaharuan.com, 2013)

            Undang-Undang Nomor 36 tentang Kesehatan mengamanatkan anggaran kesehatan minimal 5 % dari APBN di luar gaji. Anggaran kesehatan tahun 2012 baru sekitar 1,9 persen dari RAPBN 2013 dan 0,4 % terhadap pendapatan domestik bruto (PDB). Angka ini jauh di bawah persentase belanja kesehatan terhadap PDB negara, seperti Thailand 2,7 %, Malaysia 1,9 %, dan Filipina 1,3 %. (www.kompas.com, 2013)

2.    Masalah Pelayanan Kesehatan

                        Sistem pelayanan di Indonesia belum menjangkau dan berpihak kepada rakyat yang membutuhkan, hal ini penulis ungkapkan atas dasar beberapa fakta dilapangan yang berhasil diliput media massa. Fakta itu antara lain berita di Sulewesi mengatakan bahwa ada pasien yang meninggal karena ditinggal dokter berlibur akhir tahun dan perawat yang bertugas di RS saat itu tidak berani ambil keputusan (www.tribunnews.com, 2013). Selain itu di wilayah Solo pelayanan Pusat kesehatan Masyarakat (Puskesmas) tutup pada hari libur Natal karena cuti bersama (http://edisicetak.joglosemar.co 2011) dan bukan hanya itu, masyarakat banyak mengeluh dengan pelayanan puskesmas yang hanya 6 hari kerja dan hanya bisa melayani sampai siang hari (www.aceh.tribunnews.com, 2012).

                        Bukti lain masalah pelayanan kesehatan di Rumah Sakit (RS) adalah kasus bayi kembar lahir prematur yang bernama Dera, meninggal setelah ditolak 10 RS, berikut pernyataan Ayah Dera kepada media “Kalau ditolak hampir 10 rumah sakit, kita sudah kasih surat itu dibilang fasilitasnya tidak ada sudah penuh. Ada juga yang bilang tidak ada bidannya,” ujar Eliyas, ayah Dera saat ditemui di kediamannya di Jalan Jatipadang Baru RT 14/6, Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin 18/2/2013. (www.tribunnews.com, 2013) dan Ayahnya juga mengatakan diantara 10 Rumah Sakit yang dikunjunginya ada pihak RS yg meminta uang muka Rp 10 juta. (www.tempo.co, 2013).

3.    Masalah Sumber Daya Kesehatan

       Kualitas sumber daya manusia kesehatan (SDMK) dimulai dari lembaga Institusi pendidikan tenaga kesehatan, seberapa jauh kuantitas dan kualitas yang ada. Saat ini masih terlihat bahwa banyak institusi pendidikan kesehatan yang belum memenuhi standar kualitas pendidikan. Berdasarkan data HPEQ (Health Professional Education Quality) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, 2253 program studi dari 7 profesi  kesehatan, baru sekitar 50 % program studi yang telah terakreditasi. Pendirian institusi pendidikan tenaga kesehatan yang belum terencana sesuai dengan standar mutu dapat berdampak terhadap tidak terpenuhinya kompetensi tenaga kesehatan. Berikut daftar tabel jumlah Institusi Pendidikan (Program Studi) Tenaga Kesehatan Yang Telah Terakreditasi Tahun 2012.

Tabel 1 : Tabel Status Akreditasi Institusi Kesehatan Berdasarkan Indikator Masih Berlaku, Kadaluarsa, dan Belum Terakreditasi Tahun 2012

No

Bidang Kesehatan

Masih Berlaku

Kadaluarsa

Belum Terakreditasi

Total

1

 Kedokteran

63

25

251

339

2

 Kedokteran Gigi

15

8

37

60

3

 Keperawatan

457

44

252

753

4

 Kebidanan

454

15

259

728

5

 Kesehatan masyarakat

101

15

60

176

6

 Farmasi

79

7

67

153

7

 Gizi

12

4

28

44

Jumlah Total

1181

118

954

2253

     Sumber : http://hpeq.dikti.go.id/, 18 Maret 2013

            Selain banyaknya masalah produksi dan kualitas SDMK, masalah lain yang juga memiliki peran besar dalam menghambat pembangunan kesehatan adalah masih sangat kurangnya distribusi tenaga kesehatan disetiap instansi kesehatan pemerintah maupun swasta. Sehingga persolaan kesehatan yang semakin komplek tidak tertangani dengan baik. Berikut ini dapat penulis gambarkan sebagian rencana kebutuhan dan kekurangan tenaga kesehatan oleh Kementerian Kesehatan beserta tim pada intansi Puskesmas.

       Tabel 2 : Kebutuhan dan Kekurangan Tenaga Kesehatan di Puskesmas

Tahun 2014, 2019 dan 2025

Kebutuhan Nakes 2014-2025Sumber : Rencana pengembangan tenaga kesehatan  2011 – 2025, Kemenkes RI, Ghwa, & Giz, 2011.

                 Berdasarkan pokok permasalahan tersebut maka penulis mencoba menawarkan sebuah rekomendasi konsep reformasi sistem kesehatan melalui pengembangan konsep kesehatan holistik sebagai pelayan masyarakat universal, menjangkau, aman, nyaman dan profesional menuju pembangunan kesehatan yang berkualitas.

B.       Rekomendasi

Berdasakan pokok permasalahan tersebut, penulis mencoba menawarkan sebuah rekomendasi yang ditujukan untuk pemerintah, masyarakat, dan dunia.

1.         Rekomendasi untuk Pemerintah

a.    Pembiayaan kesehatan baik pusat maupun daerah harus di tingkatkan hingga mencapai minimal 5 persen dari pendapatan negara dan daerah di luar gaji pegawai, sesuai UU No.36 tahun 2009 sebagai bentuk komitmen pemerintah atas kesejahteraan masyarakat, hal itu bisa dilakukan dengan cara mengurangi belanja negara yang kurang perlu.

b.    Pembiayaan kesehatan sebagai jaminan seluruh warga negara tanpa terkecuali (terutama bagi warga kelas menengah kebawah) termasuk pendatang/warga asing yang berada di negara Indonesia sebaiknya bukan hanya dari asuransi tapi anggaranya juga dijamin dari pajak, sebagaimana sistem kesehatan yang sudah berjalan di Inggris melalui National Health System (NHS). Selain itu pemerintah harus mengatur harga layanan kesehatan seperti di Rumah Sakit disetiap wilayah dan daerah, termasuk harga obat-obatan, sesuai ketrjangkauan masyarakat.

c.    Regulasi kesehatan indonesia belum berpihak kepada rakyat yang membutuhkan, hal ini terlihat bahwa instansi kesehatan hanya menunggu pasien yang aktif, kemudian untuk puskesmas non rawat inap hanya buka 7 jam, dan 5 hari kerja oleh karena itu regulasi kesehatan indonesia harus dirubah menjadi pelayanan yang “menjangkau” bukan “terjangkau” artinya pelayanan kesehatan tidak hanya menunggu tetapi menjemput dan mendatangi pasien, menjangkau juga diartikan bisa melayani pasien selama penuh waktu (24 jam) dan dimanapun.

d.   Pemerintah harus membuat dan menyempurnakan peraturan dan kebijakan tentang perubahan pengobatan konvensional ke pengobatan holistik, dengan mulai menyokong penelitian dan pengembangan menuju konsep holistik.

e.    Setiap dokter, perawat, bidan dan tenaga medis lainya yang bekerja di instansi kesehatan pemerintah tidak diperkenankan buka praktek dan merangkap praktek di instansi lain, hal ini dilakukan agar pelayanan yang menjangkau bisa fokus tatkala petugas medis dibutuhkan.

f.     Pelayanan kesehatan holistik harus bersifat universal artinya konsep kesehatan yang memandang tubuh merupakan satu kesatuan yang harus dijaga. Oleh karena itu pemerintah harus mengawasi dan menerapkan konsep ini secara universal yaitu dari upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif dalam seluruh elemen sistem kesehatan nasional yang menjangkau, aman, nyaman dan profesional. Selain itu pelayanan kesehatan harus mencakup seluruh warga tanpa terkecuali dan memandang status ekonomi, serta sosial. Pelayanan kesehatan yang universal bisa diakses dimanapun dan kapanpun, hal ini bisa dilakukan dengan membuat sistem call center secara gratis khusus keadaan darurat dan masalah kesehatan.

g.    Pelayanan kesehatan di setiap intansi kesehatan harus nyaman, aman dan profesional artinya sikap dan perilaku tenaga kesehatan dalam memberikan layanan harus bersifat kekeluargaan dan memuaskan masyarakat dan berusaha meminimalisir kesalahan dalam tindakan. Pelayanan kesehatan di seluruh rumah sakit sebaiknya tidak mengenal kelas seperti RS kebanyakan di Indonesia, sehingga semua warga negara mendapatkan pelayanan yang adil.

h.    Pemerintah harus bertanggung jawab teliti, tegas dan serius dalam mengelola instansi pendidikan tinggi kesehatan baik jumlah, standar pembiayaan, standar kurikulum, dan mutu lulusan institusi yang kesemuanya itu disesuaikan terhadap kemampuan dari kebutuhan SDMK.

i.      Rencana pengembangan tenaga kesehatan pemerintah saat ini harus ditinjau ulang dan dibenahi sesuai arah RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) berikut ini

Arah pengembangan Nakes terhadap RPJMN

Oleh karena itu pemenuhan tenaga kesehatan dan pendistribusian harus lebih bisa menghargai fungsi profesi lain yang ada, sehingga tidak tumpang tindih dan menimbukan konflik antar profesi, menempatkan dan memprioritaskan tenaga kesehatan yang memiliki tugas dan kewenangan dalam upaya preventif dan promotif. Sebuah konsep yang belum direncanakan pemerintah pusat maupun daerah yang penulis ingin tawarkan adalah “program satu SKM (Sarjana Kesehatan Masyarakat) untuk satu desa/kelurahan”, hal ini bisa di mulai mulalui sistem penugasan khusus dari pemerintah, atau pegawai tidak tetap jika pemerintah belum bisa memenuhi kebutuhan secara cepat atau secara bertahap yang diawali dari daerah dengan permasalahan yang tinggi akan masalah kesehatan.

2.         Rekomendasi untuk Masyarakat

a.         Masyarakat harus bisa berpartisipasi aktif dan selalu mengawasi dan melaporkan setiap kebijakan, peraturan dan tindakan dari oknum pemerintah yang tidak memihak kepada pasien atau rakyat.

b.      Masyarakat harus meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemauan bahwa konsep kesehatan holistik merupakan prinsip utama dalam menjaga kesehatan diri, keluarga dan lingkungan. Konsep kesehatan holistik lebih menekankan pada usaha melenyapkan penyebab penyakit bukan gejalanya, dan mengembalikan berjalan normalnya fungsi tubuh yang memiliki mekanisme pertahaan tubuh yang sempurna serta self-repairing system (sistem yang memungkinkan tubuh memperbaiki dirinya sendiri). Pola makan dan perilaku hidup yang baik dan sehat (aktifitas fisik, tidak merokok, tidak minum alkohol, tidak stress, istirahat cukup) adalah dasar pengobatan holistik.

c.    Masyarakat juga harus memberikan pendidikan sejak dini kepada keluarga dan lingkungan akan pentingnya melakukan konsep kesehatan holistik.

3.         Rekomendasi untuk Dunia

a.         Dunia saat ini harus berkomitmen untuk membuat regulasi dan kesepakatan yang baik bahwa konsep kesehatan holistik harus segera digalakkan ke semua negara jika dunia dan negara tidak akan terbebani penyakit kronik degeneratif maupun penyakit menular.

b.        Dunia harus menyiapkan dukungan pembiayaan, fasilitas layanan kesehatan dengan konsep holistik dan SDM yang cukup untuk mengembangkan konsep kesehatan holistik yang bisa menjangkau, aman, nyaman dan profesional.

c.         Dunia harus membuat tim khusus dalam setiap negara untuk menjamin, menggerakan dan mengawasi proses berjalanya konsep kesehatan holistik dimasing-masing negara.

              Semoga Konsep Reformasi Sistem Kesehatan Melalui Pengembangan Konsep Kesehatan Holistik Sebagai Pelayan Masyarakat Universal, Menjangkau, Aman, Nyaman dan Profesional Menuju Pembangunan Kesehatan yang Berkualitas bisa kita rasakan diseluruh Indonesia dan berbagai belahan dunia.

 

Daftar Pustaka

Anonim.2013.http://www.kebijakankesehatanindonesia.net/component/content/article/73-berita/1302-komitmen-pemerintah-terhadap-kesehatan-dinilai-masih-lemah.html, diakses 27 Maret 2013.

Anonim. 2011. http://holisticindonesia.com/indonesian-tourist-hospital/halaman/2/sejarah-holistic-dan-rumah-sakit-holistic, diakses 27 Maret 2013.

Anonim.2013.http://hpeq.dikti.go.id/v2/index.php?option=com_content&view=article&id=77:lam-ptkes&catid=2:uncategorised, diakses 18 maret 2013.

Hasyim. 2012. http://aceh.tribunnews.com/m/index.php/2012/11/17/puskesmas-tutup-warga-mengeluh, diakses 27 Maret 2013.

Hidayat, Rachmat. 2013. http://jakarta.tribunnews.com/2013/02/19/ditolak-10-rumah-sakit-dera-akhirnya-meninggal, diakses 17 Maret 2013.

_______________. 2013. http://www.tribunnews.com/2013/01/02/pasien-meninggal-gara-gara-dokter-pergi-berlibur, diakses 28 Maret 2013.

Kemenkes RI, Ghwa & Giz. 2011. Rencana pengembangan tenaga kesehatan  2011 – 2025, Kemenkes RI, Ghwa, & Giz, Jakarta.

Kus Ana, Lussia. 2012. http://health.kompas.com/read/2012/08/24/07335433/Anggaran.Kesehatan.Belum.Capai.5.Persen, diakses tanggal 27 Maret 2013.

Peraturan Presiden No.72 Tahun 2012 Tentang Sistem Kesehatan Nasional.

Purnama, Angga. 2011. http://edisicetak.joglosemar.co/berita/hasrat-ingin-berobat-apa-daya-puskesmas-tutup-63785.html, diakses 28 Maret 2013.

Syailendra. 2013. http://www.tempo.co/read/news/2013/02/18/083462143/Bayi-Meninggal-Setelah-Ditolak-10-Rumah-Sakit, diakses 17 Maret 2013.         

Undang-undang No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan.

NB :    Artikel ini Telah dikirim ke sayembara Internasional POTRET INDONESIA 2014 yang diadakan oleh PCIM Rusia.

Sertifikat Sayembara artikel Internasional POTRET Indonesia 2014 PCIM Rusia

Sertifikat Sayembara artikel Internasional POTRET Indonesia 2014 PCIM Rusia

Terimakasih & Salam Sehat🙂

Tentang Agus Samsudrajat S

"Membuat tapak jejak dengan berpijak secara bijak dimanapun kaki ini beranjak"
Pos ini dipublikasikan di Artikel dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke POTRET INDONESIA 2014 Reformasi Sistem Kesehatan Melalui Pengembangan Konsep Kesehatan Holistik Sebagai Pelayan Masyarakat Universal, Menjangkau, Aman, Nyaman dan Profesional Menuju Pembangunan Kesehatan yang Berkualitas

  1. Faizal Rangkuti berkata:

    untuk poin rekomendasi untuk pemerintah poin c, saya sangt sepkt mas,, yang namanya kesehtn apa bisa di buat jadwal?? kan seperti itu logikanya.. artinya jika dihubungkan dengan pelaynan harsnya tak terbatasi oleh jadwal yang singkat biar masyrkat bisa menjangkau pelaynn dengan baik,,
    trus untuk poin e,, memg benr mas ,, idealnya hrsnya seperti itu… jika sudh fokus di instansi pemerintah , jgn disibukkan lg dengan praktek yang lain.. biar pelayannnya lbh maksimal.
    sama dengan kasus ini, sehrusnya pimpinan rumah sakit harusnya bukan ditangani oleh dokter lg,, biar lebh fokus dan maksiml..
    akn tetpi klo sya meliht ,, kenpa terjdi maslh di ats,, ada kaitannya juga bargkali dengn penerimaan mereka (gaji).. barg kali gaji yang mereka terima belm mencukupi untuk kebutuhan keluarganya..
    dengan kata lain, menrt sya alngkah lebh bagusny jika rekomndsi di ats di tambahin juga dengn ” memperhatkan kesejahteraan tenaga kesehatn.. ”

    tks..

    • Yap betul sekali mas Faizal, bagus sekali dan terimakasih atas komentar dan tambahan rekomendasinya, mohon doanya juga supaya PCIM Rusia bisa menterbitkan tulisan itu menjadi sebuah buku yang akan dihadiahkan untuk pemerintah kita….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s