Kesehatan Ibu & Anak Kalbar Masih Terancam

Memperingati Hari Kesehatan Nasional ke 48, 12 November 2012

Hari Kesehatan Nasional ke 48

Hari Kesehatan Nasional ke 48

Sehat adalah hak setiap orang, selain sebagai salah satu hak dasar manusia, juga merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), yang bersama faktor pendidikan dan ekonomi menjadi ukuran untuk menentukan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Oleh karena itu, tepat sekali pernyataan yang mengemukakan bahwa ”Sehat memang bukan segalanya, tetapi apabila tidak sehat, maka segalanya tidak ada artinya”. Di pihak lain, sehat harus dijaga ketika mulai dari janin dalam kandungan, anak balita, remaja, dewasa dan usia lanjut  untuk terus diupayakan dan diperjuangkan. Hal ini karena banyak sekali persyaratan yang harus dipenuhi untuk mencapai keadaan sehat. Sehat memang banyak ditentukan oleh perilaku manusia itu sendiri. Namun sehat, juga banyak dipengaruhi oleh masalah kemiskinan, kebodohan, pencemaran lingkungan, dan lain-lain bahkan juga keamanan.

“Peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) Ke-48 tahun 2012 ini, dioptimalkan sebagai momentum meningkatkan kepedulian terhadap masalah kesehatan ibu, anak dan gizi masyarakat sebagai upaya mendorong percepatan pencapaian target MDGs tahun 2015.” Pencapaian derajat kesehatan ditandai dengan menurunnya Angka Kematian Bayi (AKB), menurunnya Angka Kematian Ibu (AKI) dan menurunnya prevalensi gizi kurang dan gizi buruk serta meningkatnya umur harapan hidup (UHH). Di Indonesia, AKB memang telah menurun dari 35 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2004 menjadi 34 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI, 2007). AKI menurun dari 307 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2004 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007. Sementara target yang akan dicapai sesuai kesepakatan MDGs tahun 2015, angka kematian ibu turun menjadi 102 kematian per 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi menjadi 24 per 1000 kelahiran hidup.

Berdasarkan target tersebut, angka kasus gizi buruk dan gizi kurang Kalbar masih sangat mengancam dan perlu perhatian khusus oleh semua pihak supaya target pembangunan nasional tahun 2015 dapat tercapai. Sehingga jika kasus ini tidak ditekan, akan sangat mempengaruhi pembangunan nasional, ekonomi dan sosial politik. Berikut gambaran secara peta kasus gizi buruk di wilayah Kalbar yang masih belum mencapai target nasional.

Peta Gizi buruk & Kurang kalbar

Peta Gizi buruk & Kurang kalbar

prevalensi gizi kurang KalBar

Prevalensi gizi kurang KalBar

persentasi bayi KN1

Persentasi bayi KN1

Data riset kesehatan dasar (Riskesdas) yang dilakukan pada tahun 2007 dan 2010 secara konsisten menunjukkan bahwa rata-rata asupan kalori dan protein anak balita masih di bawah Angka Kecukupan Gizi (AKG). Akibat dari keadaan tersebut, anak balita perempuan dan anak balita laki-laki Indonesia mempunyai rata-rata tinggi badan masing-masing 6,7 cm dan 7,3 cm lebih pendek daripada standar rujukan WHO 2005, bahkan pada kelompok usia 5-19 tahun kondisi ini lebih buruk karena anak perempuan  pada  kelompok ini tingginya 13,6 cm di bawah standar dan anak laki-laki 10,4 cm di bawah standar WHO. Kelompok ibu pendek juga terbukti melahirkan 46,7 persen bayi pendek. Kelompok ini tingginya 13,6 cm di bawah standar dan anak laki-laki 10,4 cm di bawah standar WHO. Kelompok ibu pendek juga terbukti melahirkan 46,7 persen bayi pendek. Karena itu jelas masalah gizi intergenerasi ini harus mendapat perhatian serius karena telah terbukti akan mempengaruhi kualitas bangsa.

Merebaknya kembali pemberitaan di media elektronik maupun media cetak akhir-akhir ini mengenai balita gizi buruk Kalbar yang ditemukan dan meninggal menunjukkan adanya sistem penanggulangan yang belum optimal dari berbagai instansi terkait. Permasalahan lain yang sering terjadi di lapangan dikarenakan program tidak dilaksanakan dengan baik. Beberapa alasan yang sering disampaikan antara lain lemahnya dukungan sosial  politik dan pembiayaan dari Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota.

Permasalahan lain yang membuat kesehatan ibu dan anak di Kalbar masih terancam adalah mengenai lambatnya pembangunan fasilitas umum, seperti jalan sebagai akses ke tempat pelayanan kesehatan. Sudah lebih dari 2 bahkan 3 periode kepemimpinan kepala daerah perubahan infrastruktur jalan masih belum tersentuh. Berikut ini ada beberapa informasi atas jawaban yang penulis tanyakan terkait photo profil di jejaring sosial Puskesmas Sungai Ayak. “Sebagian besar jalan ke desa-desa di wilayah kecamatan belitang hilir memang masih jalan tanah biasa atau perkerasan dengan sirtu (pasir dan batu kerikil). Ke beberapa tempat, cukup sulit dilewati bila musim hujan namun cukup lancar jika musim kering. Kunjunngan ke desa biasanya dilakukan jika ada kegiatan seperti pelayanan pengobatan masal (gratis) yang terpadu dengan kegiatan dinkes. Alternatif lain ? Yah…. itu memang satu-satunya pilihan”.

Berikut ini hasil jepretan dokumentasi dari salah satu wilayah kerja Puskesmas Sungai Ayak, Kalimantan Barat.

Salah Satu Wilayah kerja Puskesmas Sungai Ayak

Puskesmas Sungai Ayak

Gambar diatas merupakan sebagian kecil dari salah satu wilayah kerja Puskesmas di wilayah Kalbar, dan sebagian besar wilayah puskesmas di luar kota kalbar memiliki kendala yang sama terkait jarak tempuh ke tempat pelayanan kesehatan maupun kondisi jalan yang rusak atau banjir saat musim hujan. Sehingga kondisi tersebut sangat menyulitkan dan memakan waktu dan biaya petugas kesehatan maupun masyarakat dalam mendapatkan akses pelayanan kesehatan.

Pencegahan dan penanggulangan gizi buruk memerlukan komitmen dan tanggung jawab bersama semua pihak terkait antara unsur Pemerintahan Pusat terutama Pemerintah Daerah, masyarakat, serta dunia usaha yang ikut berpengaruh besar terhadap pembangunan daerah seperti perusahaan Kelapa Sawit, Kayu dan Karet. Oleh karena itu perlu dikembangkan kumunikasi dan koordinasi semua unsur yang terlibat secara berkesinambungan. Respon cepat penanggulangan balita gizi Buruk terdiri dari serangkaian kegiatan, lebih jauh diperlukan jejaring yang melibatkan unsur pemerintahan, LSM, media cetak maupun elektronik.

Salam Sehat🙂

Tentang Agus Samsudrajat S

"Membuat tapak jejak dengan berpijak secara bijak dimanapun kaki ini beranjak"
Pos ini dipublikasikan di Artikel dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s