Untung Ruginya Bisnis Pendidikan di PT

13509079841723124838

Sebagai seorang manusia rasa takut dan kecewa akan kehilangan sesuatu yang dimilikinya adalah sebuah hal yang biasa, apalagi tentang sesuatu yang dianggap berharga. tetapi yang tidak mudah adalah bagaimana menempatkan rasa takut tersebut menjadi sesuatu yang baik dan berharga dan tidak hina dimata tuhan dan juga sesama manusia. Oleh karena itu Tuhan mewajibkan kita untuk berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran. Paradigma saya berpendapat bahwa mencegah kemungkaran dalam prakteknya tidaklah semudah berbuat kebaikan. Sebagai gambaran kecil banyak pelaku kejahatan atau pejabat koruptor melakukan kebaikan dari hasil kejahatanya, tetapi tidak banyak orang yang mau meninggalkan kejahatanya atau bertobat dengan sungguh-sungguh. Meskipun demikian, itu tidak mengartikan bahwa sudah tidak ada lagi orang baik dan jujur di dunia ini. Hidup adalahan pilihan, pilih surga atau neraka, pilih yang baik atau yang buruk.

Kalimat pengantar paradigma diatas muncul akibat berbagai permasalahan secara universal selama ini. Permasalahan secara universal di segala bidang tersebut tidak akan saya uraikan satu per satu, tetapi saya lebih tertarik untuk memaparkan terkait bidang pendidikan di Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia, khususnya dunia pendidikan kesehatan.

Menurut UU No.20 tentang Sistem pendidikan tinggi nasional tahun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Sesuai UU No.12 tentang perguruan tinggi tahun 2012, Pendidikan Tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program diploma, program sarjana, program magister, program doktor, dan program profesi, serta program spesialis, yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi berdasarkan kebudayaan bangsa Indonesia.

Saat ini tidak sedikit pula kita melihat dan mungkin merasakan ada beberapa oknum PT nakal yang telah membuat lembaga mulia tersebut menjadi tercoreng dan mengancam secara lahir batin bangsa ini.

Pernahkan anda bertanya kepada pengelola & pemimpin PT di sekitar tempat tinggal anda, apa tujuan bapak/Ibu mendirikan PT tersebut? tentu jawaban yang diharapkan dan benar adalah ingin ikut berpartisipasi membantu meningkatkan pendidikan sesuai UU & peraturan yang berlaku. Tetapi apakah anda peduli bagaimana kenyataan dalam realisasinya jika tidak demikian, dan apakah anda tahu dampaknya jika PT nakal tersebut merupakan tempat anda kuliah, anak anda atau sauadara anda kuliah atau tempat anda bekerja ?

Ketika ada sebuah PT yang tidak memiliki rencana sistem pendidikan yang baik (jelas & terukur), kemudian saya cukup terkejut saat mendengar ada seorang pengelola & pimpinan salah satu PTS mengatakan “Undang-Undang & Peraturan itukan harus disesuaikan dengan kondisi PT, kita belum bisa menerapkan hal itu disini,” artinya Undang-undang (UU) dan peraturan yang menjadi standar minimal tersebut bisa ditawar atau dilanggar yang artinya PT tidak disiplin, tidak memberikan teladan, penyelewengan, dan Jika hal itu dianggap wajar, maka akan sangat wajar jika civitas akademika (dosen & mahasiswa) juga akan melanggar peraturan tersebut. Bayangkan jika sebagian besar PT seperti itu maka “mau dibawa kemana budaya dunia pendidikan PT kita”.

Menurut WHO selain pembiayaan, delapan puluh persen (80%) keberhasilan pembangunan kesehatan ditentukan oleh sumber daya manusia (SDM). Saat ini tidak sedikit PT yang mengabaikan unsur-unsur pokok peningkatan kualitas SDM pendidikan PT, tidak sedikit pula program studi kesehatan tidak memiliki laboratorium IPA dasar atau keahlian, tidak adanya dana penelitian dan pengabdian masyarakat. Bayangkan saja jika sekelas SMP dan SMA sederajat sudah mengenal dan praktek akan alat-alat laboratorim IPA dasar ketika saat menjadi mahasiswa yang harusnya lebih mengenal lebih dalam dari pendidikan sebelumnya justru malah tidak mengenal,dan maksimal hanya mendengar atau melihat saja, apalagi ketika masa SMP dan SMA belum pernah mengenal alat-alat tersebut. Permasalahan ini tentu menjadi penyebab buruknya kualitas SDM kesehatan dan sistem pendidikan PT kita, disengaja atau tidak yang terlihat adalah PT mengabaikan unsur yang pokok dan penting tetapi justru mendahulukan sesuatu yang kurang penting.

Secara umum nilai jual dan gengsi program studi di PT ditentukan oleh akreditasi,oleh karena itu berbagai upaya akan dilakukan untuk mendapatkan yang terbaik, tetapi haruskah cara itu dilakukan dengan cara curang seperti membuat & mengirim laporan bodong, mendesain sarana & prasarana instan, membohongi asesor serta tindakan curang lainya ? Kenapa selalu tidak ada pilihan untuk mendapatkan hasil yang baik dengan cara yang jujur dan benar ? Lalu begitukah realisasi pendidikan berkarakter dari sebuah logo TUT WURI HANDAYANI yang telah paten hingga kini menjadi logo budaya dan pendidikan bangsa kita ?

Jika memang perbuatan curang itu mendapatkan hasil baik, dengan dalih penyelamatan mahasiswa yang akan lulus, akankah benar-benar menjamin lebih baik ? dan, berapa persentase lulusan program studi dari PT tersebut bisa bekerja dan berkarya dengan ilmu pengetahuan yang ia dapatkan ?

jika memang demikian, jaminan kualitas mahasiswa di PT tersebut hanyalah kebohongan semata atas dasar bahwa penyelamatan mahasiswa tersebut justru akan membuat lulusan menjadikan benih yang tidak baik pula. Status palsu tersebut menjadikan mayoritas masyarakat yang apatis akan tergiur dan tertipu untuk bisa masuk pendidikan tersebut dan tidak menutup kemungkinan keuntungan akan disalahgunakan oleh pihak pengelola PT tersebut.

Apapun jawaban para pengelola PT terkait proyek pendidikan, selain civitas akademika para pengamat maupun masyarakat telah melihat dan merasakan adanya perubahan dan gejala-gejala praktek “Untung Ruginya Proyek pendidikan PT” yang semestinya Perguruan tinggi merupakan lembaga nirlaba yang berpihak kepada rakyat kecil berdasarkan Pancasila, UUD 45, Bhineka Tunggal Ika yang berasaskan dan berprinsip seperti yang tertuang dalam UU No.12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi.

Untung ruginya Proyek PT telah semakin menjalar dan membesar ketika para civitas akademika bisa melihat dan merasakan tetapi tidak berani menuntut hak dan kewajiban dan bahkan hanya bisa terdiam, dan justru malah ikut membantu sistem atau atasan meskipun itu melanggar UU & peraturan, karena siapa yang tidak nurut alias melawan akan ditendang dari jabatan dan pekerjaan/penghasilan. Mungkin hal itulah yang membuat dosen mahasiswa dan termasuk masyarakat berpikir seribukali untuk melawan praktek “Untung Ruginya Proyek PT” alias adanya penyelewengan hak dan kewajiban civitas akademika alias praktek korupsi di PT.

Jika kasus tawuran antara SMA akhir september 2012 lalu dan tawuran mahaiswa di sulawesi dekat-dekat ini yang memakan korban jiwa mengakibatkan Kementerian pendidikan dan Kebudayaan (Kepmendikbud) gelisah, kemudian membentuk tim khusus pelajar nakal, dan memberikan sanksi yang tegas jika terlibat tawuran Maka bagaimana dengan menjamurnya Untung Ruginya Bisnis pendidikan di PT ? adakah sanksi tegas untuk masalah itu?

Jika Kepmendikbud gelisah dengan adanya korban tawuran, bagaimana dengan kematian hati para pengelola PT kita ? Jika hal ini dibiarkan maka tentu akan berdampak sistemik, bisa jadi memicu tawuran dan bukan tidak mungkin jika akan lebih berbahaya dari korban tawuran.

Tulisan ini menggambarkan hasil pengamatan dan analisa pribadi bersama pengamat pendidikan lainya untuk menjadi sebuah renungan pribadi dan mungkin juga bagi pembaca sekalian, selain informasi dan masukan kepada pemerintah dan masyarakat sebagai pengguna. Semoga gambaran “Untung Ruginya Proyek Pendidikan PT” ini dapat membangunkan dan mengingatkan pihak pemerintah yaitu Kepmendikbud dan koordinator perguruan tinggi swasta (kopertis) untuk lebih teliti dan menindak tegas PT nakal.

Salam hormat, salam sehat walafiat, & semoga bermanfaat.

 

Tentang Agus Samsudrajat S

"Membuat tapak jejak dengan berpijak secara bijak dimanapun kaki ini beranjak"
Pos ini dipublikasikan di Artikel dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s