MODEL KEPEMIMPINAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN DAN SOSIAL

MENELADANI MODEL KEPEMIMPINAN

DALAM DUNIA PENDIDIKAN DAN SOSIAL

oleh : Agus Samsudrajat S

Kepemimpinan dan manajemen adalah satu rangkaian yang tidak bisa dilepaskan, inti dari manajemen = kepemimpinan. Manajer/pemimpin yang telah sangat cerdas menyusun tata laksana organisiasi tidak akan efisien dan efektif  bilamana tidak disertai dengan kemampuan kepemimpinan. Memimpin adalah sebuah aksi mengajak sehingga memunculkan interaksi dalam struktur sebagai bagian dari proses pemecahan masalah bersama (John K Hemphill, dalam Hoy and Miskel (1991:252).

Pemimpin adalah orang yang dapat mempengaruhi orang lain agar dapat berbuat sesuai dengan kemauan yang dikehendakinya sesuai dengan etika, dan aturan (Kitab/Al-Quran, Hadits, UU, PP, SK, dll). Dengan kata lain pemimpin adalah orang yang sanggup membawa orang lain menuju kepada tujuan yang dikehendakinya.  Banyak teori tentang pemimpin dan kepemimpinan (leadership), namun teori tersebut pada intinya adalah sebagai seni mempengaruhi orang lain.

Wahab Abdul Kadir mendefinisikan pemimpin adalah orang yang memiliki kesanggupan mempengaruhi, memberi contoh, mengarahkan orang lain atau suatu kelompok untuk mencapai tujuan baik formal maupun non formal. Pemimpin juga diartikan sebagai seseorang yang berkemampuan mengarahkan pengikut-pengikutnya untuk bekerja bersama dengan kepercayaan serta tekun mengerjakan tugas-tugas yang diberikannya. Memimpin adalah sebuah aksi mengajak sehingga memunculkan interaksi dalam struktur sebagai bagian dari proses pemecahan masalah bersama.

Pada hakekatnya setiap manusia pada hakekatnya adalah pemimpin, paling tidak ia sebagai pemimpin dirinya sendiri.  Hati adalah pemimpin di dalam tubuh manusia, sebab segala sesuatu yang yang manusia perbuat adalah berdasar petunjuk dan kemauan hati nurani.

Berkenaan dengan kepemimpinan spiritual ini, menarik uraian A. Riawan Amin dalam buku beliau The Celestial Management, dalam mana beliau menekankan pada tiga akronim yakni ZIKR, PIKR dan MIKR. ZIKR berisikan zero base yakni memandang segala sesuatu dengan bersih, apa adanya dan bebas prasangka. Iman, memberikan kekuatan spiritual , menghilangkan rasa cemas dan takut. Konsisten, menjaga arah tujuan sampai pada titik sasaran. Result oriented, yakni menuju hasil yang murni : mardhatillah. Kemudian PIKR yaitu dimulai dengan power sharing,information sharing, knowledge sharing dan rewards sharing. Kalau ZIKR titik beratnya merangsang pribadi yang ulung, PIKR memberikan resep dan prasarat agar kru yang terhimpun dalam sebuah tim melenggangkan keunggulannya. Jika pribadi-pribadi matang yang dibentuk dari konsep ZIKR bertemu dengan sebuah tim yang solid yang terlahir dari perut PIKR, mereka akan menjadi tim unggulan (the winning team). The winning team berkaitan dengan MIKR yakni militan, intelek, kompetetif dan regeneratif. Sesungguhnya beberapa hal yang diutarakan disini barulah sedikit

cuplikan dari luasnya dasar spiritual kepemimpinan yang Islami, dan inipun sekali lagi tergantung dari (1) Sempit luasnya pemahaman pemimpin terhadap ajaran agamanya, (2) Seberapa jauh penghayatan spiritualnya, dan (3) Seberapa jauh konsistensi keberagamaannya.

Kepribadian Nabi Besar Muhammad saw. yang sangat menunjang dakwah beliau dalam hal kepemimpinan yang disebutkan dalam Al Qur’an sebagai berikut:

  1. Bersikap lemah-lembut.
  2.  Selalu mema’afkan kesalahan orang lain betapapun besar kesalahan tersebut selama kesalahan tersebut terhadap pribadi beliau.
  3. Memintakan ampun dosa dan kesalahan orang lain kepada Allah swt., jika kesalahan tersebut terhadap Allah SWT.
  4. Selalu mengajak bermusyawarah dengan para sahabat beliau dalam urusan dunia dan beliau selalu konsukuen memegang hasil keputusan musyawarah.
  5. Jika beliau ingin melakukan sesuatu, maka beliau selalu bertawakkal kepada Allah SWT dalam arti: direncanakan dengan matang, diprogramkan, diperhitungkan anggarannya dan ditentukan sistem kerjanya.

(QS2. Al Baqarah ayat 216)

Artinya : diwajibkan atas kamu berperang, Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Ayat ini mengajak kita berfikir hati-hati dalam bertindak karena bisa jadi seorang pemimpin menganggap baik apa yang ia pilih dan putuskan, belum tentu baik buat mitra kerja dan umat yang dipimpinya, maka untuk mengetahui baik tidak nya kita terutama umat muslim di WAJIB kan untuk bermusyawarah dalam hal keduniawian. Sebagaimana disebutkan dalam ayat al-Quran dibawah ini :

Artinya : dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka (As-Syura/42 : 38).

Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu[246]. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya (Ali Imran/3 : 159).

[246] Maksudnya: urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya.

Sebagaimana diterangkan dalam surah As-Syura/42 : 38 dan Ali Imran/3 ayat 159. Musyawarah penting karena kepemimpinan berkaitan dengan banyak orang. Melalui musyawarah akan terbangun tradisi keterbukaan, persamaan dan persaudaraan. Perencanaan, organisasi, pengarahan dan pengawasan selalu saja terkait dengan sejumlah orang, maka keterbukaan, persamaan dan persaudaraan akan memback up lancarnya proses manajemen tersebut.

Sebuah visi dan misi organisasi, akan semakin baik bilamana dibangun atas dasar musyawarah, akan semakin sempurna dan akan memperoleh dukungan luas, “sense of belonging and sense of responsibility” karena masyawarah sebagai bagian dari sosialisasi.

Di sisi lain, musyawarah melenyapkan kediktatoran, keakuan dan arogansi yang seringkali menghambat kelancaran proses manajemen Tuhan juga mencontohkan dalam banyak firmannya yang menggunakan kata “Kami” dari pada kata “Aku”. Penggunaan kata “Kami” tersebut adalah pengakuan adanya keterlibatan pihak lain. Musyawarah dapat memperkuat proses transformasi input menjadi output, sesuai penegasan Howard S. Gitlow, dkk (2005:3) yaitu “A process is a collection of interacting components that transform inputs into outputs toward a common aim, called a mission statement. It is the job of management to optimize the entire process toward its aim”.

Menurut konsep Al-Qur’an, sebagimana ditulis oleh Khatib Pahlawan Kayo, bahwa seorang pemimpin harus memilki beberapa persyaratan sebagi berikut :

  1. Beriman dan bertaqwa. (Al-A’raf/7 : 96)
  2. Berilmu pengetahuan. (Al-Mujadilah/58 : 11)
  3. Mampu menyusun perencanaan dan evaluasi. (Al-Hasyr /59: 18)
  4. Memiliki kekuatan mental melaksanakan kegiatan.  (Al-baqarah/2 : 147)
  5. Memilki kesadaran dan tanggung jawab moral, serta mau menerima kritik.  (Ash-Shaf/61:147).

Adapun gaya yang harus dimilki seorang pemimpin dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya adalah seperti berikut ini :

  1. Selalu ramah/lemah lembut dan gembira (Ali imran/3 :159)
  2. Menghargai orang lain
  3. mempelajari tindakan perwira yang sukses dan menjadi ahli dalam hubungan antar manusia
  4. Mempelajari bentuk kepribadian yang lain untuk mendapatkan pengetahuan dalam sifat dan kebiasaan manusia
  5. Mengembangkan kebiasaan bekerjasama, baik moral maupun spiritual
  6. Memelihara sikap toleransi (tenggangrasa)
  7. Memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan
  8. Mengetahui bilamana harus terlihat secara resmi sebagai pemimpin dan bilamana harus terlihat sebagai masyarakat, agar kehadirannya tidak mengganggu orang lain dan dirinya sendiri.

Adapun bila diterapkan dalam dunia pendidikan tentang model-model tersebut, sebagimana diunkapkan oleh Agus Dharma:

  1. Model Otokratis, disini seorang kepala sekolah/pemimpin menentukan sendirikebijakan sekolah dan menugaskannya kepda staf tanpa berkonsultasi dengan mereka, kepala sekolah mengarahkan secara rinci dan harus dilaksanakan tanpa pertanyaan.  Dengan model kepemimpinan ini seorang kepala sekolah biasanya selalu percaya diri, tahu persis apa yang harus dilakukan dan memiliki sumber pengaruh yang cukup untuk menggerakkan orang-orangnya. Namun model ini biasanya selalu mengekang staf baik tata laksana maupun dewan guru.
  2. Model Permisif, kepala sekolah/pemimpin beranggapan bahwa semua orang pada prinsipnya terlahir bertanggungjawab dan memiliki kemampuan untuk melaksanakan kewajibannya. Kepala sekolah membiarkan stafnya untuk melakukan pekerjaannya sendiri tapi jika digunakan tanpa aturan akan timbul ketidak seimbanagan yang tidak kondusif di sekolah tersebut.  Sisi baiknya setiap staf dipacu untuk berinisiatif dan berkarya sendiri tanpa campur tangan kepala sekolah. Namun hal ini tidak semua benar dan hanya berlaku bagi guru yang berpengalaman dan profesional.
  3. Model Partisipatif, kepala sekolah/pemimpin selalu melibatkan stafnya dalam memutuskan suatu perencanaan, semua keputusan telah dimusyawarahkan terlebih dahulu bahkan siswapun diajak turut serta.Kebaikan dari sifat ini, jika terjadi kegagalan bukan sepenuhnya ditanggung pimpinan, naumun ditanggung bersama.
  4. Model Situasional, seorang kepala/pemimpin sekolah dalam model ini, harus melihat situasi dan kondisi waktu sebuah keputusan harus diambil. Model i ni dapat dikataakan memadukan dari model-model sebelumnya.  Jika diterapkan pada kondisi yang tepat maka dapat memotivasi bawahannya untuk bekerja keras untuk mencapau suatu tujuan.

Dalam teori kepemimpinan terdapat model : taylor, Mayo, Iowa, Ohio dan Michigan. Yang dianggap sebagai teori klasik. Dan dalam teori kepemimpinan modern terdapat model yang dikemukakan Likert, Redin. Ditambah pula dengan munculnya kepemimpinan kharismatik, visioner, transaksional dan kerja tim (team work).

Model kepemimpinan yang baik untuk diterapkan di lembaga pendidikan adalah kepemimpinan situasional, karena yang dipimpin dan produknya adalah benda hidup yang bernama anak didik.

Seseorang bias menerapkan beberapa model kepemimpinan jika pemimpin itu memilki kemampuan intelektual dan daya nalar kreasi tinggi, sehingga kebijakan apa yang harus diambil dapat dengan cepat bias dilakukan.

Kepemimpinan dalam Islam adalah kepemimpinan idealistik rasulullah, yaitu mengutamakan musyawarah dan pendekatan akhlaqi, yaitu mengaggap staf sebagai mitra kerja dalam mencapai tujuan.

DAFTAR PUSTAKA

Alqur,an dan Terjemahnya, Departemen Agama RI.

Abdoel Kadir, Abdul Wahab, Organisasi Konsep Dan Aplikasi, Tangerang, Pramita Press,cet.pertama, 2006.

A. Riawan Amin, ZIKR, PIKR, MIKR: The Celestial Management, Senayan Abadi Publishing, Jakarta Selatan, Cetakan Kelima, 2006.

Buseri, Kamrani, Peran Spiritualitas (Agama) Dalam Penyelenggaraan Kepemimpinan, makalah disampaikan pada Seminar dan Orasi Ilmiah dalam rangka Dies Natalis ke 24 & Wisuda Sarjana ke 19 & Pascasarjana ke 2 STIA Bina Banua Banjarmasin, tanggal 15 dan 16 September 2006.

Gitlow, Howard S., Oppenheim, Alan J., Opepenheim, Rosa., Levine, David M., Quality Management, , McGraw Hill International Edition , Third Edition, 2005.

Haekal, Muhammad Husain, Sejarah Hidup Muhammad, (terjemahan), Litera AntarNusa, Jakarta, cetakan keduapuluh sembilan, 2003.

Husaini Usman, Manajemen Teori Praktik Dan Riset Pendidikan, jakarta, Bina Aksara, cet I, 2006.

Hoy, Wayne K. and Miskel, Cecil G. Educational Administration,: Theory, Research, Practice, McGraw Hill, Inc. New York, dll., Copyright, 1991.

Kamrani Buseri. 2006. Peran Spiritualitas (agama) dalam Penyelenggaraan Kepemimpinan. Disampaikan pada Seminar dan Orasi Ilmiah dalam rangka Dies Natalis ke 24 & Wisuda Sarjana ke 19 & Pascasarjana ke 2 STIA Bina Banua Banjarmasin, tanggal 15 dan 16 September 2006.

Pahlawan Kayo, Khatib RB, Kepemimpinan Islam & Dakwah, Jakarta, Amzah, cet I, 2005.

Pusdiklat Pegawai Depdiknas, Manajemen Sekolah, Jakarta, edisi II, cet III,tt Sopiah, Perilaku Organisasi, Yogyakarta, Andi, tt,

Terry, Georga R. Prinsip-Prinsip Manajemen, Terj.J. Smith DFM. Jakarta, Bumi Aksara, Cet.Kedelapan, 2006.

Versi pdf ny dapat di download disini.

Tentang Agus Samsudrajat S

"Membuat tapak jejak dengan berpijak secara bijak dimanapun kaki ini beranjak"
Pos ini dipublikasikan di Artikel dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s