Memperingati Hari Anak Nasional 23 Juli 2011

Memperingati Hari Anak Nasional 23 Juli 2011
STRATEGI NASIOAL PANGAN DAN GIZI UNTUK BEBASKAN
DAERAH RAWAN GIZI BURUK
By : Agus Samsudrajat S, SKM

HAN 2011
Dalam upaya menjamin pemenuhan hak anak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta terlindungi dari kekerasan dan diskriminasi, tanggal 23 Juli telah ditetapkan sebagai Hari Anak Nasional (HAN) berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984. Peringatan HAN dilaksanakan di tingkat nasional dan di tingkat daerah dengan tujuan agar semua lapisan masyarakat menyadari akan pentingnya pendidikan, kesehatan, gizi, pengasuhan, dan perlindungan anak Indonesia. Sebagai acuan kegiatan HAN Tahun 2011, telah disusun Pedoman Pelaksanaan Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) Tahun 2011 untuk digunakan mulai tingkat pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota oleh semua pihak terkait baik instansi pemerintah–termasuk KBRI, lembaga/organisasi kemasyarakatan, masyarakat Indonesia di luar negeri, dan instansi swasta dalam melaksanakan kegiatan peringatan HAN Tahun 2011 dengan tema Sehat, Kreatif dan berakhlak Mulia.

Melalui tema itu diharapkan seluruh komponen bangsa dapat terinspirasi untuk terus meningkatkan perhatian terhadap pentingnya mempersiapkan anak Indonesia menjadi generasi yang sehat, kreatif, dan berakhlak mulia sekaligus cerdas dan berprestasi. Guna mewujudkan hal tersebut maka jaminan pemenuhan hak-hak anak untuk memperoleh pendidikan, kesehatan, gizi, pengasuhan dan perlindungan yang bermutu harus terus kita upayakan. Ungkap Menteri Kesehatan RI dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr. PH yang diterbitkan dalam pedoman HAN 2011 tersebut.

Beranjak ke wilayah Provinsi Kalbar khususnya Sintang, peringatan-peringatan hari bersejarah semacam ini sangat sulit dan jarang kita temui, baik dari masyarakat, lembaga atau instansi pendidikan, maupun pemerintah daerah sebagai motor penggerak dan pengendali daerah. Kurangnya kepedulian dan kesadaran hari-hari bersajarah ini secara langsung maupun tidak langsung akan memutuskan generasi pendahulu, sekarang maupun dengan yang akan datang.

Berdasarkan data kesehatan Dinas Provinsi Kalbar tahun 2005-2009 saja, dari 16.218 balita yang diukur, jumlah bayi gizi buruk ada 463 balita atau dengan persentase 2,85 %. Berdasarkan analisa data tersebut ternyata Kabupaten Sintang memiliki angka Gizi Buruk tertinggi di provinsi Kalbar jika dibandingkan 13 kabupaten yang ada, selain informasi tersebut tercatat juga hanya 2 (14,29 %) kecamatan dari 14 kecamatan yang ada di Kabupaten Sintang masuk kategori kecamatan bebas rawan gizi. Meskipun di tahun 2011 ini sintang menjadi peringkat 3 gizi buruk se Kalbar, masalah gizi buruk masih menjadi perhatian serius untuk tidak bisa diabaikan.

Penanganan masalah gizi memerlukan upaya komprehensif dan terkoordinasi, mulai proses produksi pangan beragam, pengolahan, distribusi hingga konsumsi yang cukup nilai gizinya dan aman dikonsumsi. Oleh karena itu kerjasama lintas bidang dan lintas program terutama pertanian, perdagangan, perindustrian, transportasi, pendidikan, agama, kependudukan, perlindungan anak, ekonomi, kesehatan, pengawasan pangan dan budaya sangat penting dalam rangka sinkronisasi dan integrasi kebijakan perbaikan status gizi masyarakat.

Sebagai acuan dasar strategi daerah (strada) pemerintah pusat telah membuat Strategi Nasional untuk perbaikan pangan dan Gizi tahun 2011-2015. Strategi tersebut adalah :

1. Perbaikan gizi masyarakat, terutama pada ibu pra-hamil, ibu hamil dan anak melalui peningkatkan ketersediaan dan jangkauan pelayanan kesehatan berkelanjutan difokuskan pada intervensi gizi efektif pada ibu pra-hamil, ibu hamil, bayi, dan anak baduta.

2. Peningkatan aksesibilitas pangan yang beragam melalui peningkatkan ketersediaan dan aksesibilitas pangan yang difokuskan pada keluarga rawan pangan dan miskin.

3. Peningkatan pengawasan mutu dan keamanan pangan melalui peningkatkan pengawasan keamanan pangan yang difokuskan pada makanan jajanan yang memenuhi syarat dan produk industri rumah tangga (PIRT) tersertifikasi.

4. Peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) melalui peningkatkan pemberdayaan masyarakat dan peran pimpinan formal serta non formal terutama dalam perubahan perilaku atau budaya konsumsi pangan yang difokuskan pada penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal, perilaku hidup bersih dan sehat, serta merevitalisasi posyandu.

5. Penguatan kelembagaan pangan dan gizi melalui penguatan kelembagaan pangan dan gizi di tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten dan kota yang mempunyai kewenangan merumuskan kebijakan dan program bidang pangan dan gizi, termasuk sumber daya serta penelitian dan pengembangan.

Melihat salah satu fakta bahwa angka gizi buruk yang terjadi di lingkungan sekitar kita atau bahkan mungkin ada diantara keluarga kita, masihkan kita selaku makhluk sosial yang secara moral maupun secara tertulis sebagai perwakilan masyarakat atau intitusi tetap berpangku tangan, cukup melihat dan kemudian mengesampingkan permasalahan tersebut untuk tidak segera diambil tindakan sebagai solusi. Tidak ada salahnya dan akan lebih baik jika HAN 2011 sebagai pembangkit dan alat pembangun serta penggerak kita dalam merealisasikan kesehatan dan kesejahteraan anak dengan berbagai upaya demi menyelamatkan sebagian anak sebagai penerus dan persiapan bibit daerah maupun nasional demi lingkungan disekitar kita khususnya dan demi kesejahteran bangsa kita pada umumnya.

Tentang Agus Samsudrajat S

"Membuat tapak jejak dengan berpijak secara bijak dimanapun kaki ini beranjak"
Pos ini dipublikasikan di Artikel dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s