Peringatan Hari Lupus Sedunia 10 mei 2011

Peringatan Hari Lupus Sedunia 10 mei 2011

WASPADAI PENYAKIT LUPUS SEJAK DINI TERUTAMA KAUM WANITA

(Agus Samsudrajat S, SKM)

Lupus adalah penyakit “auto-immune disease” yang hingga saat ini belum diketahui penyebabnya. Secara normal sistem imunitas tubuh akan membentuk protein yang dikenal sebagai antibody, yang bertugas membasmi virus, bakteri atau materi asing yang masuk ketubuh. Pada penderita lupus sistem imun tidak dapat membedakan substansi asing dan sel-sel dan jaringan tubuh. Antibodi yang dihasilkan justru melawan sel-sel yang seharusnya dibutuhkan tubuh.

Sebanyak 10.314 penderita lupus ditemukan di Indonesia (data September 2010) dan angka ini terus meningkat pesat sejak kampanye mulai dilakukan Yayasan Lupus Indonesia (YLI)  pada 2005. Dengan dikenali sedini mungkin, penderita lupus yang salah satunya gejalanya berupa ruam berbentuk kupu-kupu di wajah ini akan mendapat pengobatan yang tepat. Hasilnya, angka kematian bisa berkurang yang pada akhir 2010 lalu di Indonesia mencapai lebih 400 orang.
Lupus sebagian besar adalah wanita usia produktif. Sebanyak 8 dari 10 kasus baru yang muncul menimpa wanita usia usia 15-60 tahun.

Prof dr Zubairi Djoerban SpPD (KHOM) turut mendampingi pengurus YLI yang diketuai Tiara Savitri SPd. Prof Zubairi menyatakan bahwa penanganan lupus di tingkat deteksi dini, penanggulangan, ataupun terapinya akan mudah dilakukan. Pasalnya, ketersediaan obat-obatan bagi kelompok deteksi dini telah terjamin di mayoritas puskesmas seluruh Indonesia secara gratis.

YLI sendiri menekankan program pada  peningkatan sosialisasi agar masyarakat semakin mengenal gejala-gejala awal dan konsekuensi kesehatan akan lupus. Di antaranya dengan cara memfasilitasi proses peningkatan informasi penatalaksanaan lupus bagi dokter umum, perawat, dan bidan di daerah tertinggal dengan cara membantu pencarian materi, mencetak, membagikan, juga memfasilitasi penyelenggaraan pelatihan. Kemudian, YLI juga akan mengupayakan  bantuan pendanaan untuk membantu penderita yang kurang mampu. YLI juga melakukan koordinasi dengan organisasi lupus sedunia, sebagai upaya pembaruan data, perkembangan pengobatan, dan pelaksanaan program yang dapat diaplikasikan di seluruh dunia. Penderita lupus sebagian besar adalah wanita usia produktif. Sebanyak 8 dari 10 kasus baru yang muncul menimpa wanita usia usia 15-60 tahun.

YLI sendiri menekankan program pada peningkatan sosialisasi agar masyarakat semakin mengenal gejala-gejala awal dan konsekuensi kesehatan akan lupus. Di antaranya dengan cara memfasilitasi proses peningkatan informasi penatalaksanaan lupus bagi dokter umum, perawat, dan bidan di daerah tertinggal dengan cara membantu pencarian materi, mencetak, membagikan, juga memfasilitasi penyelenggaraan pelatihan.

Kemudian, YLI juga akan mengupayakan  bantuan pendanaan untuk membantu penderita yang kurang mampu. YLI juga melakukan koordinasi dengan organisasi lupus sedunia, sebagai upaya pembaruan data, perkembangan pengobatan, dan pelaksanaan program yang dapat diaplikasikan di seluruh dunia.

Banyak orang tidak mengetahui apa itu penyakit Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau Lupus sehingga cukup banyak orang beranggapan lupus merupakan penyakit langka dan jumlah pasiennya sedikit. Kenyataannya, pasien lupus semakin meningkat tiap tahunnya. Lupus sama bahayanya dengan kanker, jantung, maupun AIDS yang dapat mengancam jiwa bahkan kematian pasien jika tidak segera ditangani.

Lupus juga dikenal dengan sebutan penyakit seribu wajah atau si peniru ulung. Hal ini disebabkan gejala awal yang dialami oleh setiap pasien (setiap kasus lupus) berbeda-beda dan hingga saat ini belum diketahui penyebab pastinya. Keterlibatan genetik, hormon, dan faktor lingkungan diduga sebagai faktor penyebab lupus. Secara medis, lupus adalah penyakit autoimun (sistem kekebalan tubuh) yang diproduksi secara berlebihan dan merusak organ tubuh sendiri. Lupus bukanlah penyakit menular dan menurun.

Prof. Zubairi Djoerban, Sp PD KHOM, Seorang ahli hematologi onkologi medik dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo, Jakarta, menjelaskan “Jika dalam kondisi normal, sistem kekebalan tubuh berperan untuk melindungi tubuh kita dari virus, bakteri, dan ancaman luar lainnya. Pada kasus lupus, sistem tersebut tidak dapat membedakan ancaman dari luar dan jaringan sel itu sendiri sehingga sistem kekebalan tubuh tersebut justru membuat antibodi yang menyerang sel sehat pada tubuh penderita (Odapus)”.

Menurut Prof. Zubairi, organ tubuh yang sering terkena adalah ginjal, jantung, paru-paru, otak, darah, dan kulit. Sedangkan gejala yang sering dijumpai adalah sakit pada sendi, demam, sendi bengkak, lelah berkepanjangan, ruam pada kulit, anemia, dan gangguan ginjal. Sejumlah gejala lain adalah sakit di dada saat tarik napas dalam, ruam bentuk kupu-kupu melintang pada pipi dan hidung, sensitif pada matahari atau sinar, rambut rontok, jari jadi putih atau biru saat dingin, stroke, dan sariawan.

Penyebab Lupus

Lupus adalah penyakit misterius dan belum diketahui pasti apa penyebabnya. Hanya sedikit tanda atau gejala yang ditampakan sebelum penderita secara visual mengalami keganjilan. Mendadak si penderita akan mengalami perubahan fisik yang nyata.

Pemeriksaan Lupus

Cara Mengetahui seseorang menderita lupus adalah dengan pengujian menggunakan tes darah bernama Anti Nuclear Antibody (ANA). Tes ini akan mengidentifikasi autoantibody (antibody perusak) yang memakan sel-sel berguna bagi tubuh. Hasil positif tes ANA tersebut belum bisa dikatakan seseorang menderita lupus. Perlu dibutuhkan data lain seperti, gejala, catatan fisik pasien, dan tes lengkap laboratorium hingga dipastikan si pasien apakah menderita lupus.

Gejala Awal Lupus

Gejala awal lupus yang biasa dialami orang dengan penderita lupus (odapus) diantaranya adalah:

  • Rasa ngilu yang luar biasa pada persendian
  • Mengalami kelelahan yang ekstrim
  • Sensitive terhadap cahaya, sinar matahari, maupun kilatan foto.
  • Muncul semacam bekas luka disekitar tubuh
  • Wajah bagian Pipi dan hidung penderita tampak ruam-ruam menyerupai kupu-kupu (butterfly effects)
  • Mengalami anemia amat parah
  • Saat bernafas penderita tampak mengalami tekanan yang berat
  • Timbul permasalahan disekitar hidung dan mulut

Perawatan Penderita Lupus

Perawatan Lupus dapat dilakukan dengan pengobatan medis, meskipun dalam penggunaan akan menimbulkan efek samping. Gejala dan efek samping yang dialami oleh masing-masing penderita sangat variatif dan tak bisa diprediksi. Jadi dibutuhkan pendampingan petugas kesehatan yang mengerti penyakit lupus.

Obat-obatan yang bisa diberikan pada penderita lupus

  • Steroid
  • Immunosuppressant
  • Antimalarial (Plaqunil/hidroxychloroquine)
  • Non-steroidal anti-inflammatories.

Penyakit LUPUS bisa dicegah dengan :

  • Mengurangi kontak dengan sinar matahari yang berlebihan
  • Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
  • Hindari diri dari stress berat yang berkepanjangan
  • Tidak merokok
  • Olahraga teratur
  • Melakukan diet nutrisi

Fakta-Fakta Lupus

  • Lupus adalah penyakit autoimmunitas dimana sistem imun merusak sel-sel tubuh yang berguna
  • Ada 5 Jenis penyakit lupus yang masing-masing mempunyai karakteristik yang khas dan membutuhkan penanganan yang berbeda pula.
  • 90 % penderita lupus adalah perempuan.
  • Di Negara Amerika Serikat ada 11 kampus yang menkhususkan penanganan terhadap lupus.
  •  Sampai sekarang angat sulit untuk mendiagnosis lupus.
  • Penanganan Lupus sangat tergantung pada gejala yang timbul
  • Sebanyak lebih dari 1,5 juta orang didunia menderita lupus.
  • Ras tertentu memiliki resiko lebih besar dibandingkan ras lain; Afro-Amerika, hispanik, asia dan penduduk asli amerika.
  • Mayoritas penderita lupus setelah diobati akan sembuh secara normal
  • Penanganan lupus dilakukan oleh rheumatologist yaitu Seorang dokter medis yang mengkhususkan diri pada perawatan yang bukan operasi dari penyakit-penyakit rheumatik, terutama arthritis.

Download versi pdf silahkan klik pada link berikut Peringatan Hari Lupus Sedunia 10 Mei 2011.

Tentang Agus Samsudrajat S

"Membuat tapak jejak dengan berpijak secara bijak dimanapun kaki ini beranjak"
Pos ini dipublikasikan di Artikel dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s